📜 Cikal Bakal Desa Jembayan Tengah
Cikal bakal Desa Jembayan Tengah berasal dari Kampung Selingsing, yang dahulu merupakan hutan rimba luas membentang dari Merangan Darat hingga Mehembat dan Lembonang, serta dari Jembayan (Tahangkon) sampai Jahab. Nama Selingsing diambil dari rumput yang tumbuh lebat di anak Sungai Jembayan, yang kemudian disebut Sungai Selingsing.
Pembuka lahan pertama adalah Pak Mi’ dan Bu Saerah pada tahun 1948. Mereka sempat berpindah ke beberapa wilayah seperti Ukung dan Jembayan sebelum kembali membuka hutan di Gunung Kepeng, Munte, dan Guntungojot (kini Tudungan). Keturunan mereka masih ada hingga kini, sebagian menetap dan sebagian merantau ke Samarinda dan Tanah Grogot.
Pada tahun 1960-an Selingsing berkembang menjadi kampung dengan pendatang dari Kutai Hulu, Jembayan, Banjar, dan suku lainnya. Rumah-rumah berdiri di sepanjang Sungai Jembayan. Wilayah ini kemudian meluas hingga Lempatan dan Sumber Rejeki. Lempatan dinamakan dari kebiasaan masyarakat melompat melewati sungai kecil. Pada 1970–1980-an, pendatang Banjar dari Kalimantan Selatan menetap dan membentuk RT tersendiri.
Tahun 1980-an berkembang perusahaan cokelat Hasfarm di Selingsing Darat (kini Lembu Lompat). Setelah perusahaan berhenti, masyarakat membentuk kampung Tudungan. Pada 1990-an beberapa wilayah seperti Tudungan dan Alhidayah membentuk RT terpisah dari Selingsing.
Selingsing kemudian mulai ditinggalkan dan kini hanya dihuni beberapa keluarga. Kampung ini dikenal sebagai “Kampung Tuha” karena menjadi asal-usul pemekaran wilayah seperti Jembayan Tengah, Jembayan Dalam, Sungai Payang, dan sekitarnya.
Pada tahun 2006, Desa Jembayan resmi dimekarkan menjadi tiga desa: Jembayan Tengah, Jembayan Dalam, dan Sungai Payang, setelah sebelumnya mengalami ketimpangan pembangunan akibat luasnya wilayah.
🌿 Sosial Budaya
Mayoritas masyarakat Jembayan Tengah beretnis Jawa, disusul Banjar dan beberapa suku lainnya sehingga penduduknya bersifat heterogen. Meski demikian, kehidupan sehari-hari masyarakat lebih kental dengan adat dan budaya Kutai, baik dalam komunikasi, pergaulan, maupun adat perkawinan dan kenduri. Pengaruh ini tidak lepas dari sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara serta keberadaan suku Banjar sebagai penduduk awal.
Budaya Jawa tetap terlihat, terutama di Dusun II, III, dan IV. Salah satu tradisi khas yang terkenal adalah budaya “Bara’an” saat Idul Fitri, di mana warga secara bergiliran mengunjungi seluruh rumah untuk bersilaturahmi selama beberapa hari. Setiap rumah menyediakan ketupat dan hidangan khas Lebaran.
Dari sisi keagamaan, masyarakat Jembayan Tengah didominasi pemeluk Islam. Dari total 4.275 penduduk, sekitar 1.747 jiwa beragama Islam, sementara sebagian kecil lainnya beragama Kristen.